<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0" xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/">
  <channel>
    <title>dis-ease</title>
    <link>https://dis-ease.writeas.com/</link>
    <description>this part of her journey and journal as a survivor of schizoaffective disorders</description>
    <pubDate>Sat, 04 Apr 2026 03:34:51 +0000</pubDate>
    <item>
      <title>We are</title>
      <link>https://dis-ease.writeas.com/we-are?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[Dua bulan!--more-- rasanya aku kembali ke diriku, selama dua bulan I felt the thrill and I enjoyed it. Far from counseling, far from medicine. I feel alot better. Mungkin obat paling mujarab seorang wanita muda ini adalah alam dan manusia. I feel alive again setelah 6 bulan ngerasain numb yang parah. Aku sadar, mimpi buruk masih mengintai. Iya aku sadar akan hal itu. Tapi sekarang sepertinya aku sudah bisa mengolah mereka. Ketika ambang tak adanya harapan datang karena tak kunjung dapat pekerjaan, disitu aku menguatkan diriku. Tidak mudah menjadi seorang yang terkenal dengan &#39;biasanya&#39; dia ketika dia memiliki penyakit mental. Aku ingin lebih dari penyakit mentalku. Aku masih ingin kembali menjadi diriku yang dulu yang kuat. Menggabungkan diri sekarang dan yang lalu. Menjadi the whole new people, layaknya batuan metamorf. Loh kok metamorf ya wkwkw&#xA;Iya, dengan tekanan dan suhu yang tinggi, seperti itulah aku. &#xA;Let me do a promise to myself:&#xA;Let&#39;s live longer and happier no matter what&#39;s gonna happen in future.&#xA;]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<p>Dua bulan rasanya aku kembali ke diriku, selama dua bulan I felt the thrill and I enjoyed it. Far from counseling, far from medicine. I feel alot better. Mungkin obat paling mujarab seorang wanita muda ini adalah alam dan manusia. I feel alive again setelah 6 bulan ngerasain numb yang parah. Aku sadar, mimpi buruk masih mengintai. Iya aku sadar akan hal itu. Tapi sekarang sepertinya aku sudah bisa mengolah mereka. Ketika ambang tak adanya harapan datang karena tak kunjung dapat pekerjaan, disitu aku menguatkan diriku. Tidak mudah menjadi seorang yang terkenal dengan &#39;biasanya&#39; dia ketika dia memiliki penyakit mental. Aku ingin lebih dari penyakit mentalku. Aku masih ingin kembali menjadi diriku yang dulu yang kuat. Menggabungkan diri sekarang dan yang lalu. Menjadi the whole new people, layaknya batuan metamorf. Loh kok metamorf ya wkwkw
Iya, dengan tekanan dan suhu yang tinggi, seperti itulah aku.
Let me do a promise to myself:
Let&#39;s live longer and happier no matter what&#39;s gonna happen in future.</p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://dis-ease.writeas.com/we-are</guid>
      <pubDate>Fri, 01 Oct 2021 08:15:24 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>archive</title>
      <link>https://dis-ease.writeas.com/archive?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[Bagaimana ketenangan dibutuhkan begitu ranum!--more--&#xA;hingga panggilan subyektif yang tertera di bahumu terlihat lebam&#xA;Ketenangan yang merupakan khayalan belaka&#xA;atau, aku kah sang khayalan yang tak nyata?&#xA;berjuta kegagalan yang di tajamkan begitu pilu&#xA;kebahagiaan yang di bunuh begitu tragis nan dramatis&#xA;katakan padaku, bagimana bisa kesenjangan begitu terlihat?&#xA;terlihat begitu pahit padahal bukan kopi &#xA;apa lagi yang akan kau inginkan, sayang?&#xA;bahkan otakku berhenti bekerja ketika semua huruf, angka, bahasa berputar&#xA;satu&#xA;satu&#xA;satu&#xA;satu&#xA;biarlah ku bernapas sejenak&#xA;                                                                 &#xA;&#xA;]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<p>Bagaimana ketenangan dibutuhkan begitu ranum
hingga panggilan subyektif yang tertera di bahumu terlihat lebam
Ketenangan yang merupakan khayalan belaka
atau, aku kah sang khayalan yang tak nyata?
berjuta kegagalan yang di tajamkan begitu pilu
kebahagiaan yang di bunuh begitu tragis nan dramatis
katakan padaku, bagimana bisa kesenjangan begitu terlihat?
terlihat begitu pahit padahal bukan kopi
apa lagi yang akan kau inginkan, sayang?
bahkan otakku berhenti bekerja ketika semua huruf, angka, bahasa berputar
satu
satu
satu
satu
biarlah ku bernapas sejenak</p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://dis-ease.writeas.com/archive</guid>
      <pubDate>Fri, 01 Oct 2021 07:59:50 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>JURNAL 2 | Corat-coret </title>
      <link>https://dis-ease.writeas.com/jurnal-2-corat-coret?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[Senin 19 Juli - Kamis 22 Juli 2021&#xA;&#xA;  Mana topengmu?&#xA;  Sudah kulepaskan semalam.!--more--&#xA;&#xA;     Kenapa aku merampungkan dari Senin hinga kamis kemarin? Banyak hal yang kulalui dalam 4 hari itu. Dan sekarang hari jumat pukul 10:24 am, aku ingin menuliskan bagaimana &#39;badai&#39; itu datang memporak-porandakan kapalku. Suara-suara begitu nyata, banyak macam, ada yang berkomentar, ada yang menyuruh, ada yang menyalahkan, ada pula yang dengan lantagnya menghardik dan memberikan kalimat-kalimat negatif untukku. Delusiku dimulai lagi. Aku merasa bukan menjadi diriku sendiri. &#xA;     &#xA;     Delusi akan aku yang tak bisa mendengar suara-suara orang asli, halusinasi yang aku liat diriku yang menabrakan diri dijalan, atau tentang bagaimana mereka menyuruhku dan menggodaiku untuk overdosis saja. Pikiran akan bunuh diri-dan menyakiti diri begitu besar. Mungkin ini fase depresiku. Aku jadi takut lagi mau bilang semua hal ke dokter, aku mulai tidak percaya. Iya delusiku, yang membuat aku berpikir aku adalah kegilaan yang mematikan. Hari-hari aku lewati tanpa skip minum kopi, mungkin ini pelarianku.&#xA;    &#xA;    Aku takut kalo obat-obatku mulai membuatku sulit membedakan mana yang nyata mana yang bukan. Aku bahkan mulai aktif melukis lagi, mengekspresikannya bukan dalam bentuk kata tapi seni. Sampai sekarang aku menulis ini, suara-suara masih ada.Aku terbiasa memakai earphone untuk menutupi kebisingan ini. &#xA;&#xA;    Aku pun merasa bersalah karena tidak bisa melihat wajah mama tadi malam.&#xA;Aku sedang kacau. Tak ada ekspresi yang bisa aku tunjukkan lewat wajahku. Datar-semua datar. 4 ke 5 hari, semoga 5 hari berikutnya aku masih bertahan.&#xA;Sejujurnya aku capek, capek secara mental dan raga. Aku capek dengan segala apa yang ada. Aku ingin mengahkhiri semuanya. Aku ingin pergi saja. &#xA;&#xA;]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<p><strong>Senin 19 Juli – Kamis 22 Juli 2021</strong></p>

<blockquote><ul><li>Mana topengmu?</li>
<li>Sudah kulepaskan semalam.</li></ul>
</blockquote>

<p>     Kenapa aku merampungkan dari Senin hinga kamis kemarin? Banyak hal yang kulalui dalam 4 hari itu. Dan sekarang hari jumat pukul 10:24 am, aku ingin menuliskan bagaimana &#39;badai&#39; itu datang memporak-porandakan kapalku. Suara-suara begitu nyata, banyak macam, ada yang berkomentar, ada yang menyuruh, ada yang menyalahkan, ada pula yang dengan lantagnya menghardik dan memberikan kalimat-kalimat negatif untukku. Delusiku dimulai lagi. Aku merasa bukan menjadi diriku sendiri.</p>

<p>     Delusi akan aku yang tak bisa mendengar suara-suara orang asli, halusinasi yang aku liat diriku yang menabrakan diri dijalan, atau tentang bagaimana mereka menyuruhku dan menggodaiku untuk overdosis saja. Pikiran akan bunuh diri-dan menyakiti diri begitu besar. Mungkin ini fase depresiku. Aku jadi takut lagi mau bilang semua hal ke dokter, aku mulai tidak percaya. Iya delusiku, yang membuat aku berpikir aku adalah kegilaan yang mematikan. Hari-hari aku lewati tanpa <em>skip</em> minum kopi, mungkin ini pelarianku.</p>

<p>    Aku takut kalo obat-obatku mulai membuatku sulit membedakan mana yang nyata mana yang bukan. Aku bahkan mulai aktif melukis lagi, mengekspresikannya bukan dalam bentuk kata tapi seni. Sampai sekarang aku menulis ini, suara-suara masih ada.Aku terbiasa memakai <em>earphone</em> untuk menutupi kebisingan ini.</p>

<p>    Aku pun merasa bersalah karena tidak bisa melihat wajah mama tadi malam.
Aku sedang kacau. Tak ada ekspresi yang bisa aku tunjukkan lewat wajahku. Datar-semua datar. 4 ke 5 hari, semoga 5 hari berikutnya aku masih bertahan.
Sejujurnya aku capek, capek secara mental dan raga. Aku capek dengan segala apa yang ada. Aku ingin mengahkhiri semuanya. Aku ingin pergi saja.</p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://dis-ease.writeas.com/jurnal-2-corat-coret</guid>
      <pubDate>Fri, 23 Jul 2021 02:37:01 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>Tips and Trick for me from my therapist</title>
      <link>https://dis-ease.writeas.com/tips-and-trick-for-me-from-my-therapist?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[Dari Journal 1 | 9 July 2021 &#xA;&#xA;  Kalau kau berada di dalam satu keadaan dimana kau berada dalam ruangan yang banyak orang, apa yang akan kau lakukan?!--more--&#xA;   Mencoba mendistraksi pikiranku dengan melihat objek lain, seperti pintu atau pohon.&#xA;&#xA;  Kalau kau sesak napas, apa yang akan kau lakukan?&#xA;  Aku akan melakukannya dengan caraku seperti membayangkan bentuknya seperti apa dan berusaha mengeluarkannya agar aku bisa napas. Trik lainnya dengan bernapas 4-7-8&#xA;&#xA;  Apa yang harus kau lakukan ketika akan reality check ketika ter-disasosiasi?&#xA;  Aku akan membawa aroma terapi dan menghirupnya, menggoyang-goyangkan kakiku tau melihat sekitar sambil bernapas&#xA;&#xA;  &#34;Kalau kau jadi moderator nanti, sebelumnya kau harus meng-visualisasikan di benakmu probability/scene apa aja yang akan terjadi, sehingga kau bisa menghadapi secara nyata nanti. Tanyakan topik duluan kepada narasumber dan catat hal-hal penting. Membuat kesimpulan sebelumnya juga bagus dan berguna juga untukmu nanti. List pertanyaan yang akan kau jawab juga nanti. Kamu bisa kok.&#34;&#xA;&#xA;  * &#34;Jangan lupa meng-apresiasi dirimu hari ini. Karena kau sudah melakukan yang terbaik dan aku bangga banget sama kamu! itu baru Cayapata-ku. Jangan lupa buat jurnal ya.&#34;&#xA;&#xA;  Apa yang harus aku apresiasi hari ini:&#xA;&#xA;Aku bisa coping saranku yang berbelit-belit dengan persona &#39;sok intelektual&#39; &#xA;Sesi konsul hari ini aku bisa dengan cepat mengubah skala 9 menjadi 7&#xA;Bisa keluar dari ruangan yang bikin aku sesak napas dan pikiran bunuh diri.&#xA;&#xA;done]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<p><strong>Dari Journal 1</strong> | 9 July 2021</p>

<blockquote><ul><li><p>Kalau kau berada di dalam satu keadaan dimana kau berada dalam ruangan yang banyak orang, apa yang akan kau lakukan?</p>
<ul><li>Mencoba mendistraksi pikiranku dengan melihat objek lain, seperti pintu atau pohon.</li></ul></li>

<li><p>Kalau kau sesak napas, apa yang akan kau lakukan?</p>
<ul><li>Aku akan melakukannya dengan caraku seperti membayangkan bentuknya seperti apa dan berusaha mengeluarkannya agar aku bisa napas. Trik lainnya dengan bernapas 4-7-8</li></ul></li>

<li><p>Apa yang harus kau lakukan ketika akan <em>reality check</em> ketika ter-disasosiasi?</p>
<ul><li>Aku akan membawa aroma terapi dan menghirupnya, menggoyang-goyangkan kakiku tau melihat sekitar sambil bernapas</li></ul></li>

<li><p>“Kalau kau jadi moderator nanti, sebelumnya kau harus meng-visualisasikan di benakmu <em>probability/scene</em> apa aja yang akan terjadi, sehingga kau bisa menghadapi secara nyata nanti. Tanyakan topik duluan kepada narasumber dan catat hal-hal penting. Membuat kesimpulan sebelumnya juga bagus dan berguna juga untukmu nanti. List pertanyaan yang akan kau jawab juga nanti. Kamu bisa kok.”</p></li>

<li><p>“Jangan lupa meng-apresiasi dirimu hari ini. Karena kau sudah melakukan yang terbaik dan aku bangga banget sama kamu! itu baru Cayapata-ku. Jangan lupa buat jurnal ya.”</p></li></ul>
</blockquote>
<ul><li>Apa yang harus aku apresiasi hari ini:</li></ul>
<ol><li>Aku bisa coping saranku yang berbelit-belit dengan persona &#39;sok intelektual&#39;</li>
<li>Sesi konsul hari ini aku bisa dengan cepat mengubah skala 9 menjadi 7</li>
<li>Bisa keluar dari ruangan yang bikin aku sesak napas dan pikiran bunuh diri.</li></ol>

<p><strong>done</strong></p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://dis-ease.writeas.com/tips-and-trick-for-me-from-my-therapist</guid>
      <pubDate>Fri, 09 Jul 2021 14:22:28 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>JOURNAL 1 | Friday, 9 July 2021</title>
      <link>https://dis-ease.writeas.com/journal-friday-9-july-2021?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[  Bagaimana kabarmu,hari ini puan?&#xA;  Haruskah ku jabarkan padamu?!--more--&#xA;&#xA;   Hari ini ada seminar tentang &#34;Koleksi Geologika&#34; Museum Purbakala &#34;Popa-eyato&#34;, dan aku diundang untuk jadi Narasumber pembanding bersama dua orang lainnya. &#xA;Hmm, perasaanku campur aduk jika disuruh untuk jujur karena suara di kepalaku sangat berisik, sumpah. &#xA;Dan saat itu banyak orang sekitar 30 an itu sudah kuhitung bersama diriku. Aku jadi takut sama orang-orang akhir-akhir ini. &#xA;&#xA;   Hari ini I guess I passed them all well dalam artian aku sudah melalui ketakutanku, ketika sesi saran dari narasumber pendamping, apa yang aku sampaikan masih berbelit-belit. Tapi aku main terobos aja, ya maksudnya aku tampil dengan baik. Satu keterampilanku mungkin? but, guess what? my story not ended at this point. Aku dihantui oleh permintaan dan pertanyaan apakah aku akan ikut cpns/asn dan per dosen an yang harus aku hadapi. I don&#39;t like it &#xA;&#xA;   I&#39;ve been asked to stay all almost long day with two lecturers like, what? seriously? aku harus mendengar semua percakapan mereka-yang tidak kumengerti- semuanya dan rasanya seperti mendengarkan radio rusak. Berapa jam? Dua jam mungkin.  Rencanaku yang tadinya ikut vaksinasi covid-19 (sinovac) jadi gagal, dan sesi konsul online bareng mba Indri (psikolog/therapist) jadi agak terlambat karena harus ikut ke cafe dekat kampus untuk menemani mereka.&#xA;Sudah kubilang aku punya janji dan meminta izin, namun tau tidak apa yang salah satu dosen bilang kepadaku? &#34;Emang, sepenting apakah janji meeting mu? kan bisa di cafe&#34;. she said &#xA;&#xA;   Damn, do they little know that I really have an important meeting with my therapist? dan ya, aku tetap minta ijin untuk pulang duluan. Aku sempat sesak napas dan rasanya ingin lari dari ruangan kafe itu, suara orang-orang begitu tidak mengenakkan diriku. No. What&#39;s air tho? I can&#39;t breathe, cross my hand I hope to die Akhirnya aku balik kerumah, selama dalam perjalanan aku mencoba sebisa ku untuk mengontrol semua yang terjadi selama setengah-lebih hariku. &#xA;&#xA;    Akhirnya pukul 5 sore, zoom meeting bareng therapist ku dimulai. Seperti biasa, aku menceritakan segalanya, apapun yang aku lalui hari ini. Dan seperti biasa, beliau mendengarkan dengan saksama, tapi bukan dalam tempo se singkat singkatnya hehe. Oke, lanjut. Aku mulai theraphy ku dengan menggambar suasana saat seminar dan saat aku didalam cafe. Brain spotting adalah terapi yang sudah biasa aku lakukan. Side-effectnya lumayan, karena sudah lumayan lama kami menggunakannya. Setelah aku selesai menggambar, sesi terapi intipun dimulai. &#xA;    &#xA;   Ditanya dari skala 1-10 perasaan/suasana hatiku sedang berada di angka berapa, dan aku bilang angka 9 dalam arti tidak nyaman. Sesi pun berlanjut dengan aku yang fokus pada ruangan kafe dimana aku masuk lagi ke ruangan itu dengan suasana yang sama. Didepanku ada sekelompok bapak-bapak yang ngobrol, tak kalah dengan mereka, ada sekumpulan ibu-ibu muda mungkin mereka sedang reuni alumni. Benar-benar sangat berisik. Aku kemudian bilang sama mbak Indri kalau aku mulai merasa tidak nyaman, tengkuk leherku rasanya sakit bersamaan dengan pundak bagian kanan. &#xA;&#xA;  Dalam terapi ini aku dihadapkan kembali dan merasakan kembali, walau sempat ter-disasosiasi untuk beberapa detik, akhirnya I gain my concious back. Aku memilih keluar dan disana ada rerumputan hijau setelah disuruh untuk mengganti mobil-apa yang aku lihat pertama kali-dengan yang lebih menenangkan. Sesi berlangsung dua jam penuh. Dan aku beruntung aku bisa mendapatkan seorang psikolog seperti mba Indri, aku sangat berterima kasih atas effortnya dalam membantuku. Di akhir sesi she said she was happy and appreciated what I&#39;ve done today even though I still got my bad-side &#xA;&#xA;Oke, segitu dulu untuk post ini. Post selanjutnya hasil bantuan dan tips untuk diriku.&#xA;&#xA;thank you for reading this. I don&#39;t know what should I type but I ended up like usual, typing mix Bahasa Indonesia with English. Maybe later I will typing full in Bahasa Indonesia or full English lol who knows, tho. See ya&#xA;]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<blockquote><p>Bagaimana kabarmu,hari ini puan?
Haruskah ku jabarkan padamu?</p></blockquote>

<p>   Hari ini ada seminar tentang “Koleksi Geologika” Museum Purbakala “Popa-eyato”, dan aku diundang untuk jadi Narasumber pembanding bersama dua orang lainnya.
Hmm, perasaanku campur aduk jika disuruh untuk <em>jujur</em> karena suara di kepalaku sangat berisik, sumpah.
Dan saat itu banyak orang sekitar 30 an itu sudah kuhitung bersama diriku. Aku jadi takut sama orang-orang akhir-akhir ini.</p>

<p>   Hari ini <em>I guess I passed them all well</em> dalam artian aku sudah melalui ketakutanku, ketika sesi saran dari narasumber pendamping, apa yang aku sampaikan masih berbelit-belit. Tapi aku main terobos aja, ya maksudnya aku tampil dengan baik. Satu keterampilanku mungkin? <em>but, guess what? my story not ended at this point.</em> Aku dihantui oleh permintaan dan pertanyaan apakah aku akan ikut cpns/asn dan per dosen an yang harus aku hadapi. <em>I don&#39;t like it</em></p>

<p>   <em>I&#39;ve been asked to stay all almost long day with two lecturers like, what? seriously?</em> aku harus mendengar semua percakapan mereka-yang tidak kumengerti- semuanya dan rasanya seperti mendengarkan radio rusak. Berapa jam? Dua jam mungkin.  Rencanaku yang tadinya ikut vaksinasi covid-19 (sinovac) jadi gagal, dan sesi konsul online bareng mba Indri (psikolog/therapist) jadi agak terlambat karena harus ikut ke cafe dekat kampus untuk menemani mereka.
Sudah kubilang aku punya janji dan meminta izin, namun tau tidak apa yang salah satu dosen bilang kepadaku? “Emang, sepenting apakah janji meeting mu? kan bisa di cafe”. <em>she said</em></p>

<p>   <em>Damn, do they little know that I really have an important meeting with my therapist?</em> dan ya, aku tetap minta ijin untuk pulang duluan. Aku sempat sesak napas dan rasanya ingin lari dari ruangan kafe itu, suara orang-orang begitu tidak mengenakkan diriku. <em>No. What&#39;s air tho? I can&#39;t breathe, cross my hand I hope to die</em> Akhirnya aku balik kerumah, selama dalam perjalanan aku mencoba sebisa ku untuk mengontrol semua yang terjadi selama setengah-lebih hariku.</p>

<p>    Akhirnya pukul 5 sore, zoom meeting bareng therapist ku dimulai. Seperti biasa, aku menceritakan segalanya, apapun yang aku lalui hari ini. Dan seperti biasa, beliau mendengarkan dengan saksama, tapi bukan dalam tempo se singkat singkatnya hehe. Oke, lanjut. Aku mulai <em>theraphy</em> ku dengan menggambar suasana saat seminar dan saat aku didalam cafe. <em>Brain spotting</em> adalah terapi yang sudah biasa aku lakukan. <em>Side-effect</em>nya lumayan, karena sudah lumayan lama kami menggunakannya. Setelah aku selesai menggambar, sesi terapi intipun dimulai.</p>

<p>   Ditanya dari skala 1-10 perasaan/suasana hatiku sedang berada di angka berapa, dan aku bilang angka 9 dalam arti tidak nyaman. Sesi pun berlanjut dengan aku yang fokus pada ruangan kafe dimana aku masuk lagi ke ruangan itu dengan suasana yang sama. Didepanku ada sekelompok bapak-bapak yang ngobrol, tak kalah dengan mereka, ada sekumpulan ibu-ibu muda mungkin mereka sedang reuni alumni. Benar-benar sangat berisik. Aku kemudian bilang sama mbak Indri kalau aku mulai merasa tidak nyaman, tengkuk leherku rasanya sakit bersamaan dengan pundak bagian kanan.</p>

<p>  Dalam terapi ini aku dihadapkan kembali dan merasakan kembali, walau sempat ter-disasosiasi untuk beberapa detik, akhirnya <em>I gain my concious back</em>. Aku memilih keluar dan disana ada rerumputan hijau setelah disuruh untuk mengganti mobil-apa yang aku lihat pertama kali-dengan yang lebih menenangkan. Sesi berlangsung dua jam penuh. Dan aku beruntung aku bisa mendapatkan seorang psikolog seperti mba Indri, aku sangat berterima kasih atas <em>effort</em>nya dalam membantuku. Di akhir sesi <em>she said she was happy and appreciated what I&#39;ve done today even though I still got my bad-side</em></p>

<p>Oke, segitu dulu untuk post ini. Post selanjutnya hasil bantuan dan tips untuk diriku.</p>

<p><em>thank you for reading this. I don&#39;t know what should I type but I ended up like usual, typing mix Bahasa Indonesia with English. Maybe later I will typing full in Bahasa Indonesia or full English lol who knows, tho. See ya</em></p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://dis-ease.writeas.com/journal-friday-9-july-2021</guid>
      <pubDate>Fri, 09 Jul 2021 13:09:23 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>Preamble</title>
      <link>https://dis-ease.writeas.com/pembukaan?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[  Mulai hari ini Jumat, 9 Juli 2021&#xA;aku dengan nama samaran Cayapata akan mulai aktif menulis di write.as sebagai dis-ease(terisnpirasi dari lagu bts yang judulnya pun sama) tentang apa yang aku rasakan dalam daily life dan perjalananku sebagai penyintas Schizoaffective disorder. Selamat menikmati.!--more--&#xA;&#xA;Starting today Friday, July 9, 2021&#xA;I, under the pseudonym Cayapata, will start actively writing at Write.as as a dis-ease (inspired by the BTS song with the same title) about how I feel in my daily life and my journey as a survivor of Schizoaffective Disorder. Enjoy.&#xA;&#xA;         Salam: Cayapata&#xA;&#xA;]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<blockquote><p>Mulai hari ini Jumat, 9 Juli 2021
aku dengan nama samaran Cayapata akan mulai aktif menulis di write.as sebagai dis-ease(terisnpirasi dari lagu bts yang judulnya pun sama) tentang apa yang aku rasakan dalam daily life dan perjalananku sebagai penyintas Schizoaffective disorder. Selamat menikmati.</p></blockquote>

<p>Starting today Friday, July 9, 2021
I, under the pseudonym Cayapata, will start actively writing at Write.as as a dis-ease (inspired by the BTS song with the same title) about how I feel in my daily life and my journey as a survivor of Schizoaffective Disorder. Enjoy.</p>

<p>         Salam: Cayapata</p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://dis-ease.writeas.com/pembukaan</guid>
      <pubDate>Fri, 09 Jul 2021 12:58:38 +0000</pubDate>
    </item>
  </channel>
</rss>