JOURNAL 1 | Friday, 9 July 2021
Bagaimana kabarmu,hari ini puan? Haruskah ku jabarkan padamu?
Hari ini ada seminar tentang “Koleksi Geologika” Museum Purbakala “Popa-eyato”, dan aku diundang untuk jadi Narasumber pembanding bersama dua orang lainnya. Hmm, perasaanku campur aduk jika disuruh untuk jujur karena suara di kepalaku sangat berisik, sumpah. Dan saat itu banyak orang sekitar 30 an itu sudah kuhitung bersama diriku. Aku jadi takut sama orang-orang akhir-akhir ini.
Hari ini I guess I passed them all well dalam artian aku sudah melalui ketakutanku, ketika sesi saran dari narasumber pendamping, apa yang aku sampaikan masih berbelit-belit. Tapi aku main terobos aja, ya maksudnya aku tampil dengan baik. Satu keterampilanku mungkin? but, guess what? my story not ended at this point. Aku dihantui oleh permintaan dan pertanyaan apakah aku akan ikut cpns/asn dan per dosen an yang harus aku hadapi. I don't like it
I've been asked to stay all almost long day with two lecturers like, what? seriously? aku harus mendengar semua percakapan mereka-yang tidak kumengerti- semuanya dan rasanya seperti mendengarkan radio rusak. Berapa jam? Dua jam mungkin. Rencanaku yang tadinya ikut vaksinasi covid-19 (sinovac) jadi gagal, dan sesi konsul online bareng mba Indri (psikolog/therapist) jadi agak terlambat karena harus ikut ke cafe dekat kampus untuk menemani mereka. Sudah kubilang aku punya janji dan meminta izin, namun tau tidak apa yang salah satu dosen bilang kepadaku? “Emang, sepenting apakah janji meeting mu? kan bisa di cafe”. she said
Damn, do they little know that I really have an important meeting with my therapist? dan ya, aku tetap minta ijin untuk pulang duluan. Aku sempat sesak napas dan rasanya ingin lari dari ruangan kafe itu, suara orang-orang begitu tidak mengenakkan diriku. No. What's air tho? I can't breathe, cross my hand I hope to die Akhirnya aku balik kerumah, selama dalam perjalanan aku mencoba sebisa ku untuk mengontrol semua yang terjadi selama setengah-lebih hariku.
Akhirnya pukul 5 sore, zoom meeting bareng therapist ku dimulai. Seperti biasa, aku menceritakan segalanya, apapun yang aku lalui hari ini. Dan seperti biasa, beliau mendengarkan dengan saksama, tapi bukan dalam tempo se singkat singkatnya hehe. Oke, lanjut. Aku mulai theraphy ku dengan menggambar suasana saat seminar dan saat aku didalam cafe. Brain spotting adalah terapi yang sudah biasa aku lakukan. Side-effectnya lumayan, karena sudah lumayan lama kami menggunakannya. Setelah aku selesai menggambar, sesi terapi intipun dimulai.
Ditanya dari skala 1-10 perasaan/suasana hatiku sedang berada di angka berapa, dan aku bilang angka 9 dalam arti tidak nyaman. Sesi pun berlanjut dengan aku yang fokus pada ruangan kafe dimana aku masuk lagi ke ruangan itu dengan suasana yang sama. Didepanku ada sekelompok bapak-bapak yang ngobrol, tak kalah dengan mereka, ada sekumpulan ibu-ibu muda mungkin mereka sedang reuni alumni. Benar-benar sangat berisik. Aku kemudian bilang sama mbak Indri kalau aku mulai merasa tidak nyaman, tengkuk leherku rasanya sakit bersamaan dengan pundak bagian kanan.
Dalam terapi ini aku dihadapkan kembali dan merasakan kembali, walau sempat ter-disasosiasi untuk beberapa detik, akhirnya I gain my concious back. Aku memilih keluar dan disana ada rerumputan hijau setelah disuruh untuk mengganti mobil-apa yang aku lihat pertama kali-dengan yang lebih menenangkan. Sesi berlangsung dua jam penuh. Dan aku beruntung aku bisa mendapatkan seorang psikolog seperti mba Indri, aku sangat berterima kasih atas effortnya dalam membantuku. Di akhir sesi she said she was happy and appreciated what I've done today even though I still got my bad-side
Oke, segitu dulu untuk post ini. Post selanjutnya hasil bantuan dan tips untuk diriku.
thank you for reading this. I don't know what should I type but I ended up like usual, typing mix Bahasa Indonesia with English. Maybe later I will typing full in Bahasa Indonesia or full English lol who knows, tho. See ya